Sahabat-sahabatku yang baik hatinya,,,
pernahkah anda berpikir,apa tujuan hidupmu?
Apakah hidup anda hanya untuk hura-hura?
apakah hidup anda hanya untuk main games saja?
apakah hidup anda hanya untuk senda gurau saja?
apakah hidup anda hanya untuk kesenangan dunia semata?
coba anda renungkan kembali?betapa bodohnya kita jika kita hidup hanya untuk kesenangan semata,padahal banyak sekali sesuatu yang wajib dikerjakan dan bermanfaat.Allah adalah maha sempurna dengan segala kebaikannya yang telah kita rasakan hingga hari ini,bagaimana tidak udara gratis,mata,hidung,mulut dan seluruh anggota tubuh kita semuanya Allah kasih,begitu adzan berkumandang Ogah-ogahan untuk pergi ke Masjid.apa itu yang disebut manusia bersyukur,dimana tanda anda bersyukurnya?? hadirkan Allah dalam diri anda,dalam hati anda setiap saat.jadi ketika anda akan berbuat sesuatu yang dilarang Allah,anda cepat2 untuk mengingat Allah.karna dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.
coba anda baca cerita dibawah ini:
Alkisah ada seorang atheis (suatu pemikiran atau aliran yang tidak
mempercayai adanya Tuhan) masuk ke sebuah masjid dan mengajukan tiga
pertanyaan kepada jemaah di sana. Namun, dalam pertanyaan tersebut
atheis tersebut ingin agar dijawab berdasarkan logika dan akal semata.
Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil agama, karena dalil itu hanya
dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru
diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa menurut pandangan si
penganut atheis tersebut.
Tiga Pertanyaan Si Penganut Atheis Adalah;
1. Siapakah yang menciptakan Allah? Bukankah apapun yang ada di alam semesta ini pasti ada yang menciptakan?
2. Bagaimana cara ilmiah manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?
Apakah pernyataan Allah melalui rasulnya ini bisa diterima akal sehat?
Bagaimana mungkin ini terjadi? Jawablah dengan logis dan jangan pakai
dalil!
3. Dan yang terakhir. Jika iblis diciptakan dari api, apa pengaruhnya
dengan neraka? Bagaimana bisa api tersiksa dan merasakan pedih dalam zat
yang sama? Bukankah neraka juga dari api?
Beberapa saat, suasana dalam masjid menjadi hening dengan pertanyaan
tersebut. Beberapa orang terdiam dan saling pandang. Hingga seorang
pemuda membuka suara dengan tenang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut.

Dengan tenang dan pasti ia menjawab satu per satu pertanyaan si penganut atheis :
1. Apakah Anda tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?
Sebagaimana angka 2 dari 1+1 atau 3 dari 1+2 atau 4 dari 1+3 dan
seterusnya. Kini berganti si penganut atheis itu yang diam agak bingung.
Si pemuda melanjutkan..
"Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta
angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa
kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta
tapi tidak bisa diciptakan?"
2. Saya ingin balik bertanya kepadamu, apakah manusia ketika dalam perut
ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan
dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita
dulu? Jika Anda dulu percaya bahwa kita makan dan minum di perut ibu
kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu
mempercayai bahwa di Surga kita akan makan dan minum juga tanpa buang
air?
3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis
marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun
marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : "Tanganku ini
terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah dan pipi Anda juga terbuat dari
kulit dari tanah juga, lalu jika keduanya dari kulit dan tanah,
bagaimana Anda bisa kesakitan ketika saya tampar? Bukankah keduanya juga
tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana iblis dan Api neraka?
Sang athies itu pun terdiam membisu.
Pemuda cerdas itu memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua
pertanyaan yg terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi
dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan
tepat, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas
pertanyaannya.
Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berpengetahuan luas,
berfikiran bebas dan senantiasa berpikir dan mempelajari bukti-bukti
kebesaran Allah.